Rabu, 23 Oktober 2013

Time-Life World War II Book Series



Pada suatu hari ketika masih duduk di bangku SMP, aku berjalan-jalan ke sebuah toko buku di daerah Kwitang. Saat sedang melihat-lihat buku di sana, mataku tiba-tiba terarah ke sebuah buku Perang Dunia II yang ukurannya lumayan besar. Judulnya Menjelang Perang. Saat aku mengambil buku itu dan membuka-buka halamannya … astaga … bukunya keren banget. Full pictures, beberapa bahkan berwarna. Sayangnya, harganya Rp 24.000,- … Terhitung mahal untuk ukuran saat itu. Apalagi buat anak SMP yang masih mengandalkan belas kasihan orangtua!


Masih terbayang-bayang dengan buku keren itu, aku pun pulang ke rumah dengan khayalan bisa mengumpulkan uang untuk membelinya. Saking penuh khayalan, aku pun tertidur dengan mimpi yang sama: bisa membeli buku itu.


Cover buku Negara-negara Netral
Sorenya, aku bangun. Seperti biasa, aku pun kemudian ke ruang tamu untuk berleha-leha, menghabiskan sisa hari. Namun saat meletakkan tubuhku di atas kursi, mataku tertumbuk pada sesuatu yang mengingatkanku akan buku yang kutaksir siang tadi. Iya, sepertinya buku yang ada di toko itu. Aku meraihnya dan melihatnya. Ah, bukan buku itu. Tapi kok bentuknya sama?


Buku yang ada di meja ruang tamuku itu judulnya Negara-negara Netral. Tapi buku punya siapa ini?


Selidik punya selidik, ternyata buku itu dibawa oleh omaku. Beliau seorang guru bahasa Inggris di sebuah sekolah swasta terkenal di ibu kota dan termasuk maniak buku. Di rumah kami, ada begitu banyak buku hasil koleksi beliau. Nah, buku Negara-negara Netral ini merupakan buku contoh dari penerbit Tira-Pustaka untuk omaku. Beliau sendiri memang langganan buku-buku seri terbitan Tira-Pustaka.


Yipi! Berarti, kami akan langganan buku seri Perang Dunia II itu. Pucuk dicinta, nasi ulam tiba ….


Di brosur, tertulis ada 12 buku seri PD II. Ini judulnya:


1.    Menjelang Perang
2.    Perang Kilat
3.    Negara-negara Netral
4.    Asia: Sesudah Perang
5.    Pertempuran di Pulau
6.    Kembali ke Filipina
7.    Jalan Menuju Tokyo
8.    Cina-Birma-India
9.    Partisan dan Gerilyawan
10.  Perang di Kedalaman Pasifik
11.  Jepang Tersulut Perang
12.  Pembom di Atas Jepang


Dan selama beberapa bulan berikutnya, aku memperoleh satu buku dari seri ini. Hingga hampir semuanya kumiliki, kecuali Asia: Sesudah Perang yang stoknya habis.


Tapi, jika memang ini buku seri Perang Dunia II, kok sepertinya banyak hal yang hilang dari pembahasan? Bagaimana dengan kisah-kisah pertempuran di Inggris, di Rusia, di Afrika Utara, di Atlantik, atau awal Perang Pasifik? Apakah ini semua tidak dibahas?


Suatu waktu, aku pergi jalan-jalan ke pasar buku bekas Kwitang. Aku kemudian memasuki sebuah toko buku bekas di tikungan Kwitang. Itulah saat aku pertama berani berkeliaran di sebuah toko buku bekas, yang sebelumnya malas kumasuki karena takut kena abu. Lagi menebarkan pandanganku ke atas almari toko itu, mataku melihat tumpukan buku yang warnanya mirip buku seri Perang Dunia II. Aku pun meminta mbak penjaga toko untuk diambilkan salah satu buku itu. Sialnya, awalnya si mbak menolak. Sepertinya dia sinis kalo seorang bocah ingusan sanggup membeli buku itu. Tapi aku bersikeras, dan akhirnya si pemilik toko menyuruh mbak itu untuk mengambilkannya. Dengan mendengus si mbak mengambilnya dan mengangsurkannya ke depan congor … eh mukaku.


Ini emang buku yang sama ama seri yang kupunya. Yang di tumpukan atas sama ama buku yang udah kupunya, cuma pake bahasa Inggris. Kok bisa, ya? Semakin ke bawah, ternyata ada judul-judul yang tidak kupunya. Deg! Aku jadi bernapsu sama si mbak … eh maksudku ama koleksi buku yang disampirkan si mbak yg emang cukup manis itu, hehehe …


Di antara buku yang belum ada di koleksiku itu terdapat buku yang judulnya Second Front, Battle of the Atlantic, The Home Front: USA, The Italian Campaign, The Battle of Britain, dan The Air War over in Europe. Begitu banyak pilihan tapi begitu sedikit duit di kantongku. Akhirnya, sekalipun bahasa Inggrisku saat itu sangat buruk (bayangkan, kalo ulangan paling banter dapat 4!), aku memutuskan membeli satu buku dari tumpukan itu. Kupilih  The Air War over in Europe karena aku lagi tergila-gila dengan pesawat terbang zaman PD II, dan buku itu punya lebih banyak foto dan gambar pesawat terbang daripada buku The Battle of Britain. Akhirnya, kutukarkan duit Rp 29.000, yang mungkin sekarang senilai dengan 300 ribu perak jika dilihat dari kenaikan nilai harga semangkok mie ayam abang-abang saat itu dengan semangkok mie ayam serupa saat ini, dengan buku itu.


Beberapa minggu kemudian, aku ke pasar loak lagi, tetapi kali ini di Terminal Senen. Misi awalku nyari buku pelajaran murah. Tapi saat lagi bongkar-bongkar buku di kios di sana, aku melihat ada buku seri Time-Life lagi. Judulnya The Battle of the Atlantic. Dengan berdebar-debar, aku bertanya berapa harganya. Si penjual bilang Rp25.000,-. Agak malu, tapi aku pun mulai berani belajar menawar di toko loakan. Akhirnya, harga disepakati Rp12.000. Dengan gembira, aku pun menyambar buku itu dan membawanya pulang setelah meninggalkan duit si pedagang. Namun kegembiraanku berakhir dengan kesedihan karena ternyata satu halaman buku itu hilang. Dan sialnya, aku tidak bisa menukarnya lagi. “Barang yang sudah dibeli tidak bisa ditukar,” kata si penjual mencomot kata sakti para pedagang. Dodol!


Namun pengalaman pahit itu tidak membuatku jera mengunjungi pasar loak Senen dan Kwitang. Namun kali ini aku selalu hati-hati kalo mo membeli buku: aku belajar melihat kelengkapan halamannya dulu sebelum membuka transaksi. Hasilnya, buku-buku Perang Dunia Time-Life yang kubeli kemudian selalu lengkap halamannya dan tidak terlalu lusuh.

Sekalipun demikian, awalnya kendala duit bagi seorang pelajar seperti diriku cukup menyusahkan. Apalagi jika tiba-tiba berhadapan dengan tumpukan seri itu tetapi duitku hanya cukup untuk beli satu atau dua buku saja. Pernah, di kios Senen tempatku pernah beli buku rusak tapi kini sudah jadi langganan, aku harus menghadapi dilema karena ada dua buku seri itu, Russia Besieged dan Second Front, di sana sementara duitku cuma bisa beli satu biji. Akhirnya, si abang yang orang Batak itu bilang beli satu aja dulu. Yang lainnya akan disimpannya untukku dan bisa kubeli kalo aku punya duit. Aku setuju, dan membeli yang Second Front dulu.
Cover buku The Second Front


Sampai di rumah, aku dapat rezeki nomplok karena dikasih duit lumayan banyak oleh ortu, yang jumlahnya cukup buat beli buku Russia Besieged. Jadi, dengan gembira, aku pun pergi lagi ke Senen. Tapi yang ada di kios langgananku bukan si abang, melainkan saudaranya. Saat kutanya buku yang kuinginkan, ternyata sudah tidak ada. “Udah laris, Mas,” katanya. Ternyata, saudara si abang ini baru saja ngejualnya ke pembeli lain. 


Sompret !!! Russia Besieged-ku … hiks… Lama sekali aku ingin memilikinya, minimal melihat isinya yang pasti seru. Tapi baru setelah aku kuliah, aku bisa membaca isinya dengan meminjam buku tersebut dari kawanku. Dan baru setelah aku kerja, aku bisa membelinya. Itupun dari toko di luar negeri setelah zaman internet.


Dari internet pula aku akhirnya bisa mengetahui apa saja buku yang merupakan anggota dari seri ini. Berikut daftar penulis dan judulnya:

  1. Henry Adams. Italy at War. Isinya tentang front dalam negeri Italia selama PD II.
  2. Ronald H. Bailey. The Air War in Europe. Tentang perang udara di Eropa.
  3. Ronald H. Bailey. The Home Front: USA. Tentang keadaan dalam negeri AS, termasuk bagaimana AS bisa menjadi gudang senjata bagi Sekutu.
  4. Ronald H. Bailey. Partisans and Guerrillas. Tentang penaklukan Balkan dan perang gerilya di Yugoslavia dan Yunani.
  5. Ronald H. Bailey. Prisoners of War. Tentang bagaimana para tawanan perang diperlakukan oleh pihak-pihak yang berperang. Termasuk kisah tawanan Tentara Merah yang direkrut Nazi untuk berbalik melawan Stalin.
  6. Nicholas Bethell. Russia Besieged. Kisah Operasi Barbarossa hingga kegagalan Jerman di gerbang kota Moskow musim dingin 1941.
  7. Martin Blumenson. Liberation. Kisah dari keberhasilan Sekutu menembus Normandia hingga kegagalan mereka di Arnhem.
  8. Douglas Botting. The Aftermath: Europe. Tentang Eropa setelah PD II, termasuk pengadilan para penjahat perang Nazi dan lahirnya Perang Dingin.
  9. Douglas Botting. The Second Front. Berisi persiapan Sekutu untuk membuka Front Kedua di Eropa Barat hingga keberhasilan mereka memperkuat pijakan di Normandia pasca D-Day.
  10. Richard Collier. The War in the Desert. Kisah dari kegagalan Mussolini menaklukkan Mesir, masuknya Afrika Korps pimpinan Rommel di Afrika Utara hingga penyerahan pasukan Poros di Tunisia.
  11. Franklin Davis. Across the Rhine. Tentang penyerbuan Sekutu Barat ke Jerman.
  12. Editors of Time-Life Books. The Aftermath: Asia. Berisi tahun-tahun pertama setelah penyerahan Jepang, termasuk kemerdekaan Indonesia, dan penyebaran Perang Dingin ke Asia.
  13. Editors of Time-Life Books. Japan at War. Tentang keadaan dalam negeri Jepang selama perang, termasuk konflik antarangkatan dan moral rakyat Jepang di bawah pemboman AS.
  14. Robert T. Elson. Prelude to War. Berisi ketidakpuasan terhadap pengaturan perdamaian setelah PD I, bangkitnya kaum Komunis, Fasis, dan Nazi, Perang Cina-Jepang, serta ekspansi Poros yang kemudian menjadi penyebab pecahnya PD II.
  15. John Robert Elting. Battles for Scandinava. Kisah Sekandinavia yang dilanda perang, dari Perang Rusia-Finlandia 1939-40 hingga penarikan mundur Jerman dari Rusia utara dan Finlandia tahun 1945.
  16. Denis J. Fodor. The Neutrals. Kisah negara-negara netral Eropa yang menggunakan berbagai macam cara agar tidak terseret konflik, sekalipun beberapa di antaranya gagal.
  17. William K. Goolrick dan Ogden Tanner. The Battle of the Bulge. Usaha besar terakhir Hitler untuk mengalahkan sekutu di Barat yang berakhir dengan kekalahan besar.
  18. Robert Edwin Herzstein. The Nazis. Tentang seluk-beluk Partai Nazi dan intrik di dalamnya, kebijakan pendudukan Nazi, Holocaust, serta perlawanan anti-Nazi di kalangan rakyat dan militer Jerman.
  19. Russell Miller. The Commandos. Serba-serbi pasukan khusus dan operasi mereka selama PD II.
  20. Russell Miller. The Resistance. Kisah tentang gerakan perlawanan anti-Nazi di Eropa Barat.
  21. Don Moser. China-Burma-India. Kisah usaha Sekutu untuk membendung perluasan Jepang di arena CBI.
  22. Leonard Mosley. Battle of Britain. Kegagalan Luftwaffe untuk menaklukkan Inggris dan menjadikan negeri kepulauan itu sebagai basis anti-Hitler.
  23. Barrie Pitt. The Battle of the Atlantic. Usaha AL Nazi untuk mematahkan jalur pelayaran Sekutu di Atlantik serta usaha Sekutu untuk menggagalkannya.
  24. Simon Rigge. War in the Outposts. Perang di berbagai daerah pinggiran yang tidak banyak terekspos, seperti perang di Kutub Utara, peperangan Axis vs Sekutu di Irak dan Syria.
  25. Francis Russell. The Secret War. Usaha para mata-mata untuk menembus kekuatan musuh.
  26. John Shaw. Red Army Resurgent. Usaha Tentara Merah yang masih terpukul akibat serangan musim panas 1941 Jerman hingga kemenangan mereka di Stalingrad.
  27. Gerald Simons. Victory in Europe. Gerakan penjepit Sekutu dari Barat, Timur, dan Selatan, yang diakhiri dengan Pertempuran di Berlin dan Penyerahan Nazi.
  28. Rafael Steinberg. Island Fighting. Usaha AS membendung serangan Jepang ke Australia dan mengusir mereka dari pulau-pulau di Pasifik.
  29. Rafael Steinberg. Return to the Philippines. Kampanye  terkenal MacArthur untuk membebaskan Filipina dari cengkeraman Jepang.
  30. Robert Wallace. The Italian Campaign. Serangan Sekutu ke Italia yang membuat Mussolini tersungkur dari kekuasaan hingga pembebasan kota Roma oleh Sekutu.
  31. Robert Wernick. Blitzkrieg. Kemenangan Nazi di Polandia hingga kejatuhan Prancis.
  32. Keith Wheeler. Bombers over Japan. Serangan missal pembom B-29 AS dan kegagalan Jepang untuk menangkisnya.
  33. Keith Wheeler. The Fall of Japan. Kisah penyerahan Jepang setelah dijatuhi bom atom oleh AS.
  34. Keith Wheeler. The Road to Tokyo. Upaya berdarah AS utk mendekati kepulauan utama Jepang.
  35. Keith Wheeler. War under the Pacific. Kampanye kapal selam AS dan Jepang untuk mematahkan musuhnya di Pasifik.
  36. A.B.C. Whipple. The Mediterranean. Perebutan supremasi di Laut Tengah antara AL Inggris melawan AL dan AU Jerman-Italia.
  37. Charles Whiting. The Home Front: Germany. Keadaan dan moral rakyat Jerman selama PD II.
  38. Arthur Zich. The Rising Sun. Dari Pearl Harbor dan kemenangan kilat Jepang di Asia-Pasifik hingga keberhasilan AS mematahkan keberhasilan Jepang di Midway.
  39. Earl F. Ziemke. The Soviet Juggernaut. Dari Pertempuran Tank Terbesar di Kursk hingga keberhasilan Tentara Merah mengusir Wehrmacht dari Uni Soviet.

Sebagian buku ini bisa diperoleh di Indonesia dengan lumayan mudah, seperti di toko buku bekas, pasar loak, atau pameran buku. Harganya bervariasi antara 100 hingga 150 ribu. Ada juga yang di bawah itu, tetapi biasanya sudah bulukan. Namun beberapa lainnya sangat sulit atau bahkan tidak pernah ada di pasaran Indonesia—minimal sesuai pengalamanku. Satu-satunya cara untuk mendapatkannya adalah lewat belanja online. Masalahnya, sekalipun harganya murah, bahkan hanya 1 dolar Amrik per biji, tetapi ongkirnya jauh lebih mahal. Bisa 15 kali lipat lebih dari harga bukunya. Jadi, untuk menyiasati harganya, aku harus membeli sejumlah buku seri itu dari penjual yang sama, di mana biasanya ongkir buku kedua dan ketiga serta berikutnya lebih murah sehingga harga jatuhnya per satuan lebih bersahabat. 


Buku-buku ini sendiri membantuku menyelesaikan kuliahku sekaligus memberikanku penghasilan tambahan dengan menggunakannya sebagai referensi untuk menulis artikel dan buku. Buku yang memang layak dikoleksi!!!


3 komentar:

  1. saya baru punya sekira 14 judul. kira2 cari di mana ya sisanya?

    BalasHapus
  2. Judul apa aja yg brlum ada ?

    BalasHapus
  3. Kalau yg terjemahan Bahasa Indonesia memang baru 12 judul saja ya?

    BalasHapus