Minggu, 04 Oktober 2015

Ensiklopedia Sejarah dan Budaya (PT Lentera Abadi)


Sebenarnya, buku seri Ensiklopedia Sejarah dan Budaya ini hanya terdiri atas lima jilid buku dari penerbit aslinya. Pada awalnya, aku hanya diminta oleh Penerbit PT Lentera Abadi untuk menerjemahkan kelima edisi bahasa Inggrisnya. Namun kemudian aku diminta menulis tiga buku tambahan konten lokalnya. 


Aku bertugas sebagai penulis dan, karena punya sedikit kemampuan menggambar, ikut membuat ilustrasinya, seperti gambar di atas. Namun sebagian besar ilustrasi dibuat oleh kawanku, Sapto, sementara urusan editing dipegang oleh Joe, kawan yang memperkenalkan aku dengan proyek ini.

Inilah ketiga buku yang kutulis dalam seri ini:





Di Bawah Kibaran Matahari Terbit


Judul: Di Bawah Kibaran Matahari Terbit
Penulis: N Hidayat 
Penerbit: Nilia Pustaka
Tahun Terbit: 2007
Tebal: 64 halaman (ukuran A-4)
Kategori: Sejarah/Perang

Waffen-SS


Judul: Waffen-SS
Penulis: N Hidayat 
Penerbit: Nilia Pustaka
Tahun Terbit: 2007
Tebal: 56 halaman
Kategori: Sejarah/Perang

Legiun Muslim Hitler


Judul: Legiun Muslim Hitler
Penulis: N Hidayat 
Penerbit: Nilia Pustaka
Tahun Terbit: 2007
Tebal: 48 halaman
Kategori: Sejarah/Perang

Rabu, 05 Februari 2014

Legiun Arab nan Eksotis







Judul: Brigade Arab Hitler
Penulis: N Hidayat dan F Julian
Penerbit: Nilia Pustaka
Tahun Terbit: 2009
Tebal: iv + 64 halaman
Kategori: Sejarah/Perang
 


Pemaparan yang cukup menarik mengenai strategi dan intrik politik yang terjadi di Timur Tengah pada masa Perang Dunia I dan II dikupas oleh penulis buku ini. Seperti kita ketahui, Timur Tengah merupakan salah satu wilayah yang menjadi target kolonialisme bangsa-bangsa sejak berabad-abad. Mengapa wilayah ini menjadi rebutan bagi berbagai bangsa? Hal ini karena letak geografis Timur Tengah yang menghubungkan Benua Eropa, Asia, dan Afrika membuat wilayah itu sebagai kawasan strategis bagi kekuatan-kekuatan besar. 

Di awal buku, kita akan disuguhi sejarah bangsa-bangsa yang berusaha menguasai Timur Tengah. Pada masa-masa awal munculnya agama Islam, kawasan ini identik dengan sebutan Tanah Arab. Namun, sejak abad ke-18, kawasan ini dikuasai oleh berbagai bangsa, yaitu wilayah barat dikuasai oleh bangsa Inggris, Prancis, dan Italia. Adapun, wilayah lainnya dikuasai oleh Kesultanan Turki Ottoman. 

Pada saat berkobarnya Perang Dunia I, wilayah ini justru dikuasai dan dipecah belah ke dalam wilayah pengaruh Inggris dan Prancis dan juga terancam oleh kaum Zionis yang akan mendirikan negara Israel di Palestina. 

Lalu, mengapa orang Arab bersekutu dengan orang Jerman? Hal ini karena sikap permusuhan Jerman Nazi terhadap Inggris, Prancis, dan kaum Yahudi, seperti yang tertuang dalam Mein Kampf-nya Adolf Hitler, sama halnya dengan sikap bangsa Arab. 

Kerja sama yang terjalin antara Jerman dan orang Arab tidak terlepas dari peran Mufti Besar Jerusalem, Haji Amin el-Husseini. Bisa dikatakan bahwa 50 persen dari isi buku ini membahas mengenai seluk-beluk dan tindak tanduknya di dunia politik. 

Haji Amin juga memiliki peranan besar dalam pembentukan formasi-formasi militer Arab yang bertugas di bawah kendali pihak Poros. Namun, kesukaran Nazi untuk merekrut orang Arab dalam jumlah yang memadai, membuat legiun Arab Hitler boleh dibilang bersifat simbolis belaka dan hanya memiliki nilai militer yang minim. 

Selain itu, buku ini juga membahas, antara lain Perang Irak yang pertama melawan Sekutu, terungkapnya kegiatan spionase yang dilakukan mantan Presiden Mesir Anwar Sadat sebagai mata-mata Hitler, dan berbagai fakta bahwa bangsa Arab tidak pernah bersatu. [Yohanes Agustono]

(Diambil dari resensi buku Suara Pembaruan, 24 Mei 2009)

Pasukan Asing Nazi dan Mimpi Kemerdekaan







Judul : Legiun Asing Waffen-SS, Kisah Sukarelawan Asing dalam Tentara Elite Hitler
Pengarang : N. Hidayat
Penerbit : Nilia Pustaka
Cetakan : Pertama, 2007
Halaman : 104

JAKARTA-Fakta sejarah selalu menyimpan hal-hal mengejutkan, dan butuh penggalian mendalam. Lihat fakta berikut ini. Sepasukan tentara berkebangsaan India pernah menjadi bagian dalam pasukan khusus Nazi, Waffen-SS. Nama pasukan itu, Legion Freies Indien.

Kemudian, ada dua orang Sumatera yang tercatat sebagai sukarelawan asing di pasukan khusus Nazi. Tidak melulu Amerika Serikat dengan Sekutu yang menjadi musuh utama Nazi, karena ada juga tentara asal negeri Paman Sam itu yang menjadi sukarelawan di pasukan khusus itu.

Sederetan fakta ini akan bertambah lagi, jika kita menyimak dengan saksama buku Legiun Asing Waffen-SS, Kisah Sukarelawan Asing dalam Tentara Elite Hitler. Buku ini memang menyajikan sebuah tema yang unik. Tema tentang Hitler dengan ambisinya mendirikan Jerman Raya di Benua Eropa tentu sudah menjadi sebuah kisah milik dunia. Namun, kebesaran yang sempat dibangun Hitler dengan mesin politik Nazi hancur berkeping-keping diserang dari berbagai arah, baik kerapuhan dari dalam maupun gempuran hebat dari musuh-musuhnya. Kepingan kehancuran inilah yang meninggalkan jejak-jejak kejayaan dengan menyajikan berbagai kisah tiada habisnya.

Salah satu data yang belum terungkap bagi publik di Indonesia setidaknya adalah kemampuan Hitler, lewat kaki tangannya pemimpin SS, Himmler, merekrut begitu banyak orang sebagai pasukan khusus sukarelawan. Buku ini hendak mengungkapkan bagaimana pasukan-pasukan dari berbagai bangsa itu menjadi begitu antusias bergabung dengan pasukan khusus Jerman atau Nazi.

Begitu banyak fakta dan data yang hendak diberikan buku ini, namun rasanya kurang diikat oleh jalinan peristiwa yang lebih hidup. Keterlibatan para sukarelawan diungkapkan dengan sangat taktis berbalut unsur politis, namun kurang mengungkapkan detail emosional. Rasanya banyak kisah menarik yang seharusnya bisa diungkapkan lebih dalam.

Bangsa Jerman semasa Hitler berkuasa menganggap diri merekalah sebagai manusia paling sempurna, bangsa lain “cuma numpang” di jagad raya ini. Ego nasionalisme macam inilah yang terus membekap sanubari tentara Jerman, termasuk pasukan khusus Waffen-SS. Pasukan ini juga telah bersumpah setia langsung kepada Hitler: “Saya bersumpah kepadamu Adolf Hitler, sebagai Fuhrer dan Kanselir Reich Jerman”.

Hitler menjadi raja diraja dalam sebuah lingkup kemiliteran. Dan Himmler, menjadi panglima kepercayaan dengan memegang kendali langsung di bawah pengaruh penuh dari Hitler. Dengan kebanggaan ras macam itu, persoalan dengan sukarelawan yang notabene datang dari bangsa-bangsa lain tinggal menunggu “gong”-nya. Para sukarelawan dalam pasukan khusus menghadapi hal-hal yang tidak terbayangkan saat berniat bergabung, yaitu diskriminasi dari para pejabat militer asal Jerman yang menjadi instruktur mereka dalam pelatihan, atau pun sebagai atasan mereka dalam korps. Pelecehan sebagai bangsa yang lebih rendah dari bangsa Jerman mendera mereka.

Beberapa legiun “ngambek”. Sampai-sampai pimpinan tertinggi pasukan khusus, Himmler, harus membuat aturan keras agar para komandan pasukan asal Jerman lebih menghargai keberadaan sukarelawan. Wajar saja, bagaimana pun para sukarelawan menjadi faktor penting dalam menghitung kekuatan saat berperang. Jumlah orang asing dalam pasukan khusus Waffen-SS pada akhir 1943 jauh lebih besar dari pasukan khusus yang asli Jerman.

Kisah-kisah perbenturan budaya dan ego kebangsaan inilah yang kurang terekspose di buku ini. Buku ini memberi data yang berulang-ulang tentang perbenturan itu, namun menjadi hanya data-data tanpa emosi. Namun, data-data dan fakta yang tertera di buku ini sangat bisa dijadikan acuan dalam menambah pengetahuan. Setidaknya, kita tidak perlu membongkar-bongkar arsip-arsip nun jauh di Eropa sana, atau membongkar internet untuk melihat data-data ini. Buku yang cukup tipis untuk menghimpun data-data ini bisa dengan mudah memberi informasi yang diinginkan.

Menarik melihat bagaimana setiap bangsa atau suku bangsa menjadi begitu antusias untuk menjadi bagian dari pasukan Nazi. Kemerdekaan. Kata ini selalu menjadi kata manjur untuk menarik minat orang-orang asing itu untuk bergabung.

Latvia bisa jadi contoh. Negeri itu lelah dengan penindasan Soviet saat dianeksasi, dan penyerbuan bangsa Jerman ke Uni Soviet menjadi harapan akan pembebasan. Warga Latvia pun menjadi begitu semangat menjadi anggota pasukan khusus Waffen-SS. Begitu juga yang terjadi di Estonia dan Bosnia.

Sejarah belum banyak mengungkapkan bahwa umat muslim pun sempat bahu-membahu membela panji-panji Nazi, seperti suku bangsa Tatar Crimea dan Turkestan di Asia Tengah, dan Muslim Bosnia di Yugoslavia.
Nazi mampu meyakinkan bangsa-bangsa yang merindukan kebebasan untuk bergabung. Orang-orang asing itu dijanjikan kejayaan, kemerdekaan, namun ujung-ujungnya disuguhi keruntuhan. Kebanyak dari sukarelawan itu mati di tangan Tentara Merah Soviet, atau dianggap pengkhianat di negaranya karena membelot dengan mengusung panji Nazi.

Ini mengingatkan pada pasukan KNIL bentukan Belanda, dengan janji pembentukan negara-negara satelit oleh Kerajaan Belanda. Dan Republik Maluku Selatan termasuk bagian dari janji-janji itu.

Begitu juga saat “saudara tua” Jepang datang dan bercokol selama 3,5 tahun di Indonesia. Jepang sempat dianggap bangsa pembebas dari jajahan Belanda selama 3,5 abad. Ternyata, penindasan dan kesadisan para tentara Jepang ini “nggak ketulungan”. Penindasan lewat syahwat pun berlangsung di masa Jepang, dengan jugun ianfu menjadi lembaran hitam kelam dalam sejarah perempuan Indonesia. (Job Palar)

(Dari resensi buku di Sinar Harapan, 27 Oktober 2007) 

Rabu, 23 Oktober 2013

Ballantine/Pan Violent Century Series



 


Pada suatu hari semasa SMA, aku memulai hobiku bermain di pasar loak buku. Adapun pasar loak yang kukunjungi adalah Pasar Loak Kwitang yang sekarang sudah almarhum. Saat sedang mengorek-ngorek tumpukan buku, aku menemukan sebuah buku tentang Perang Dunia II, buku yang sulit sekali kuperoleh di toko buku pada masa itu. Buku itu berjudul The Guns 1939-45 karya Ian V. Hogg. Dengan gembira, aku menukarkan uang secenganku yang sudah dekil dengan buku tersebut!

Cover buku The Guns 1933-45
Tidak seperti kebanyakan buku Perang Dunia II yang kukenal masa itu, buku ini cukup kecil tetapi full picture. Apalagi, kudapat dengan harga murah. Sangat menarik bagi seorang amatiran seperti diriku.

Dari backcover-nya, aku melihat bahwa masih ada buku sejenis karena ternyata ini sebuah buku seri. Aku begitu bersemangat untuk mencari buku-buku dalam daftar itu di loakan. Sayangnya, tidak berhasil!

Beberapa tahun kemudian, aku menjadi mahasiswa. Di kampusku, setiap awal semester selalu ada bursa buku murah yang diikuti banyak pedagang buku bekas dari seantero Jabotabek. Ini merupakan salah satu acara favoritku, di mana aku selalu tidak pernah absen mengunjunginya selama lima tahun masa kuliahku. Setiap awal semester, aku akan mencari buku-buku Perang Dunia II dan sejarah militer favoritku di antara gang-gang Fakultas FISIP dan Fakultas Ilmu Bahasa. 

Isi buku  The Guns 1939-45.
Nah, di sela-sela perburuanku ini, aku berhasil mendapatkan satu buku lagi dari seri Ballantine's Illustrated History of World War II ini yang berjudul Hitler karya Alan Wykes. Lucunya, buku ini memiliki tesis bahwa kekejaman Hitler, terutama terhadap kaum Yahudi, diakibatkan oleh rasa frustrasinya akibat penyakit sifilis yang dideritanya karena tertular seorang PSK Yahudi di masa mudanya! 

Dan kemudian, di kampusku juga, aku mendapatkan satu buku lagi dari seri ini: Gas karya Ian V. Hogg, sebuah buku tentang penggunaan gas beracun sebagai senjata selama Perang Dunia I. Sebenarnya, kalau aku lebih cepat, aku bisa mendapatkan buku Geoffrey Jukes yang berjudul Kursk. Sayangnya, kawanku mendahuluiku dan aku betul-betul merasa sedih dan terpaksa menggigit jariku saat ia memamerkan buku yang penuh dengan ilustrasi menarik dari pertempuran tank terbesar sepanjang masa itu.

Pada akhirnya, aku tahu bahwa buku-buku sejarah dengan banyak foto ini adalah bagian dari sebuah seri dari Ballantine Books yang meliputi hampir semua aspek dalam Perang Dunia II. Seri ini diterbitkan di bawah Barrie Pitt sebagai editor kepala dan Sir Basil Liddell Hart, salah seorang ahli strategi militer modern yang menjadi salah satu guru peperangan tank dari Jenderal Heinz Guderian, sebagai konsultan militernya. 

Saat internet mulai menjadi kawan karibku, aku akhirnya dapat mengetahui bahwa secara keseluruhan seri Ballantine Books ini ternyata memiliki 154 (!!!) judul buku, yang terbagi dalam sejumlah kelompok, yaitu “Battle”, “Campaign”, “Human Conflict”, “Politics”, “War Leader”, “Weapons”, dan “Full Color”. Isinya bukan hanya kisah-kisah Perang Dunia II, tetapi juga Perang Dunia I dan beberapa perang modern lainnya, seperti Yom Kippur dan Perang Indocina.

Berikut adalah daftar buku dan penulisnya:
Cover buku Kursk

Battle 1 D-Day R. W. Thompson
Battle 2 Their Finest Hour Edward Bishop
Battle 3 Stalingrad Geoffrey Jukes
Battle 4 Bastogne Peter Elstob
Battle 5 The Siege of Leningrad Alan Wykes
Battle 6 Battle for Berlin Earl F. Ziemke
Battle 7 Kursk Geoffrey Jukes
Battle 8 Tarawa Henry I. Shaw Jr.
Battle 9 Airborne Carpet A. Farrar-Hockley
Battle 10 Pearl Harbor A. J. Barker
Battle 11 Leyte Gulf Donald McIntyre
Battle 12 Okinawa Benis M. Frank
Battle 13 The Defense of Moscow Geoffrey Jukes
Battle 14 Raid on St. Nazaire David Mason
Battle 15 Anzio Christopher Hibbert
Battle 16 Cassino Dominick Graham
Battle 17 London's Burning C. Fitzgibbon
Battle 18 Kasserine Ward Rutherford
Battle 19 Battle of the Reichswald Peter Elstob
Battle 20 Midway A. J. Barker
Battle 21 Battle of the Ruhr Pocket Charles Whiting
Battle 22 Beda Fomm Kenneth Macksey
Battle 23 Bir Hakim Richard Holmes
Battle 24 Salerno David Mason
Battle 25 Armored Onslaught Douglas Orgill
Battle 26 Vimy Ridge Kenneth Macksey
Battle 27 Rhine Crossing James W. Stock
Battle 28 Argonne 1918 Barry Gregory
Battle 29 Rotterdam W. Steenbeek
Battle 30 Ploesti John Sweetman
Battle 31 Zeebrugge James W. Stock
Battle 32 Iwo Jima Michael Russell
Battle 33 Dien Bien Phu John Keegan

Campaign 1 Afrika Korps K. J. Macksey
Campaign 2 The Raiders Arthur Swinson
Campaign 3 Sicily Martin Blumenson
Campaign 4 Breakout David Mason
Campaign 5 Defeat in Malaya Arthur Swinson
Campaign 6 France John Williams
Campaign 7 Bomber Offensive Noble Frankland
Campaign 8 The Nuremberg Rallies Alan Wykes
Campaign 9 Japan Alvin Coox
Campaign 10 Liberation of the Philippines Stanley Falk (ada dua buku nomor 10 yang berbeda yang dipublikasikan)
Campaign 10 Normandy Bridgehead H. Essame (ada dua buku nomor 10 yang berbeda yang dipublikasikan)
Campaign 11 Barbarossa John Keegan
Campaign 12 (tidak diterbitkan)
Campaign 13 New Guinea John Vader
Campaign 14 Guadalcanal Graeme Kent
Campaign 15 New Georgia D. C. Horton
Campaign 16 Fall of the Philippines Ward Rutherford
Campaign 17 Schweinfurt Raids John Sweetman
Campaign 18 Carpathian Disaster Geoffrey Jukes
Campaign 19 Opening Moves - Aug. 1914 John Keegan
Campaign 20 Tanganyikan Guerrila Maj. J. R. Sibley
Campaign 21 Pacific Onslaught Paul Kennedy
Campaign 22 Operation Torch Vincent Jones
Campaign 23 Over the Hump William Koenig
Campaign 24 The Winter War Richard W. Condon
Campaign 25 Pacific Victory Paul Kennedy
Campaign 26 Tobruk James W. Stock
Campaign 27 Six Day War A. J. Barker
Campaign 28 Palaus Stanley Falk
Campaign 29 The Yom Kippur War A. J. Barker

Human Conf 1 Olympiad 1936 Judith Holmes
Human Conf 2 Lidice John Bradley
Human Conf 3 Death Railway Clifford Kinvig
Human Conf 4 Genocide Ward Rutherford
Human Conf 5 Bloody Ulster A. J. Barker

Politics 1 The Conspirators Roger Manvell
Politics 2 Blackshirts David Shermer
Politics 3 Reichstag Fire R. John Pritchard
Politics 4 Rape of Ethiopia A. J. Barker
Politics 5 Warsaw Rising Gunther Deschner
Politics 6 Hitler Youth H. W. Koch
Politics 7 Night of the Long Knives Nikolai Tolstoy
Politics 8 Nuremberg Trials Leo Kahn
Politics 9 Freedom for Women Rose Tremain
Politics 10 Berlin Blockade John Man

War Leader 1 Patton Charles Whiting
War Leader 2 MacArthur Sydney L. Mayer
War Leader 3 Hitler Alan Wykes
War Leader 4 Stilwell D. D. Rooney
War Leader 5 Bradley Charles Whiting
War Leader 6 Mountbatten Arthur Swinson
War Leader 7 De Gaulle Phillipe Masson
War Leader 8 Goring Roger Manvell
War Leader 9 Eisenhower Martin Blumenson
War Leader 10 Tito Phyllis Auty
War Leader 11 Skorzeny Charles Whiting
War Leader 12 Slim Michael Calvert
War Leader 13 Mussolini Christopher Hibbert
War Leader 14 Himmler Alan Wykes
War Leader 15 Student A. H. Farrar-Hockley
War Leader 16 Churchill David Mason
War Leader 17 Goebbels Alan Wykes
War Leader 18 Lawrence of Arabia Douglas Orgill
War Leader 19 MacArthur in Japan Sydney L. Mayer
War Leader 20 Guderian John Keegan
War Leader 21 Stauffenberg G. S. Graber
War Leader 22 Heydrich Alan Wykes
War Leader 23 Churchill 1914-1918 David Mason
War Leader 24 Yamashita A. J. Barker
War Leader 25 Rundstedt John Keegan
War Leader 26 Halsey Benis M. Frank
War Leader 27 Rommel R. Sibley/ M. Fry
War Leader 28 Zhukov Otto Preston Chaney
War Leader 29 Montgomery R. W. Thompson
War Leader 30 Tojo Alvin D. Coox
War Leader 31 Stalin Rose Tremain

Weapons 1 U-Boat David Mason
Weapons 2 Panzer Division Kenneth Macksey
Weapons 3 Aircraft Carrier Donald Macintyre
Weapons 4 Me 109 Martin Caidin
Weapons 5 German Secret Weapons Brian Ford
Weapons 6 Spitfire John Vader
Weapons 7 Commando Peter Young
Weapons 8 SS and Gestapo Roger Manvell
Weapons 9 Zero Fighter Martin Caidin
Weapons 10 Luftwaffe Alfred Price
Weapons 11 The Guns 1939-45 Ian V. Hogg
Weapons 12 Airborne Charles MacDonald
Weapons 13 PT Boats Bryan Cooper
Weapons 14 Pacific Hawk (P-40) John Vader
Weapons 15 Tank Force (Allied Armor) Kenneth Macksey
Weapons 16 Waffen SS John Keegan
Weapons 17 B29 Carl Berger
Weapons 18 Barrage Ian V. Hogg
Weapons 19 Allied Secret Weapons Brian J. Ford
Weapons 20 Rocket Fighter William Green
Weapons 21 Russian Armor (T 34) Douglas Orgill
Weapons 22 Suicide Weapon A. J. Barker
Weapons 23 Hitler's High Seas Fleet Richard Humble
Weapons 24 Mosquito Edward Bishop
Weapons 25 Infantry Weapons John Weeks
Weapons 26 P-51 Mustang William Hess
Weapons 27 The Guns 1914-18 Ian V. Hogg
Weapons 28 Trench Fighting 1914-18 Charles Messenger
Weapons 29 Flying Tigers Ron Heiferman
Weapons 30 Lancaster Bomber D. B. Tubbs
Weapons 31 Merrill's Marauders Alan Baker
Weapons 32 German General Staff Barry Leach
Weapons 33 Japanese High Seas Fleet Richard Humble
Weapons 34 Chindits Michael Calvert
Weapons 35 Condor Legion Peter Elstob
Weapons 36 Jeep D. Denfeld/M. Fry
Weapons 37 Grenades & Mortars Ian Hogg
Weapons 38 Wellington Bomber Edward Bishop
Weapons 39 Hitler's Bodyguards Alan Wykes
Weapons 40 B-17 Flying Fortress William Hess
Weapons 41 German Armor
Weapons 42 Midget Submarine J. Gleason/T. Waldron
Weapons 43 Gas Ian V. Hogg
Weapons 44 DC-3 Arthur Pearcy
Back cover buku Infantry Weapons.

Full Color 1 Nazi Regalia Jack Pia
Full Color 2 SS Regalia Jack Pia

Saat mulai bekerja dan berkantor di kawasan Kuningan, Jakarta, aku menjadi pelanggan di sebuah toko buku bekas di sana, Newsstand almarhum. Di tempat itu, ada puluhan buku dari seri ini yang dijual. Kata pemiliknya, buku-buku bekas itu diimpor dari Singapura. Harga satuannya cukup menguras kantongku, dan akan menjebol tabunganku jika aku tidak bisa menahan diri untuk membeli semua buku tersebut.

Akhirnya, aku membelinya dengan cara mencicil. Yang pertama kulakukan adalah memborong dahulu 10 judul buku yang kutahu isinya amat kusukai, seperti buku yang berisi biografi Skorzenny dan Heydrich, maupun kampanye militer seperti Warsaw Rising. Lalu tiap bulan kucicil hingga kebanyakan koleksi buku seri itu yang terpajang di sana berhasil kubeli.

Beberapa buku seri ini juga kudapat dari pameran buku di Senayan, seperti buku tentang Rundstedt, Goebbels, dan Airborne Carpet. Tapi harganya udah mulai mahal.

Sebetulnya, aku masih bermaksud memperoleh semua judul buku dalam seri ini. Namun karena masih ada banyak buku dalam daftar belanjaku, akhirnya aku harus membuat prioritas. Apalagi, kebanyakan penjual di Jakarta dan sekitarnya mulai menjual buku-buku ini dengan harga di atas Rp 50.000, bahkan hingga Rp 110.000,-. Jadi, ya aku harus bisa mengendalikan diri untuk membeli judul-judul tertentu saja yang memang kubutuhkan. Yang lainnya bisa menunggu, entah sampai kapan. Kecuali kalau ada yang jual buku-buku seri ini dengan harga yang sama seperti saat aku membeli buku pertamaku dari seri ini …. Seceng sebiji. Ada yang mau?